DEMAM SARJANA Oleh Hariz A’Rifa’i

Gambar Ilustrasi

mediadesaku.com - Mahasiswa ketika KKN akan sering bertemu dan berkumpul dengan masyarakat membahas persoalan desa. Warga desa biasanya menganggap mahasiswa adalah orang yang mengerti segalanya, dan jujur saya merasa risih merasakannnya. Tidak hanya itu banyak juga teman-teman sejawat dikampung yg merasa minder ketika ngobrol bersama hanya karena setatus mereka yang bukan mahasiswa atau sarjana. Padahal kita tidak boleh menghukum atau menilai sesoarang hanya karena status sosial. Seseorang yang bergelar sarjana atau profesor sains sekalipun belum tentu pandai dalam hal pengondisian warga  dibanding warga yang sama sekali tidak sekolah tapi sehari-harinya menjadi ketua RT/RW, semua orang jelas mempunyai keahlian dan kompetensinya masing-masing, tidak tergantung dengan diktatnya. Jadi sebenarnya yang penting itu belajar bukan sekolah.

Seorang Doktor, Insinyur, dan Profesor sekalipun tidak akan bisa membanggakan gelarnya sampai mereka melakukan sesuatu yang sesuai dengan statusnya. Bahkan sesorang yang dilabeli sebagai Teroris/ISIS tidak boleh dihukum sampai dia kedapatan terbukti melakukan teror,  dan yang dihukum bukan setatus terorisnya, tetapi dia melakuakan apa, dimana dan kapan kejadiannya.

Kita seringkali mengagungkan sekolah, sehingga jadi minder kalau tidak mempunyai gelar sarjana, doktor dll. Padahal belajar boleh pada apa dan siapapun. Tidak masalah mempelajari Fir’aun, Hitler, Abu Jahal, Fidel Castro. Semua yang ada di dunia ini adalah cahaya ilmu. Selama kita dewasa, kita tidak akan gampang ‘masuk angin’ oleh kalimat seperti apapun. Yang penting tidak mudah terseret untuk menyalahkan atau membenarkan. Ambil saja makna dan manfaatnya. Simpan yang baik, tendang jauh-jauh yang tidak baik.

Ini bukan berarti kita sekolah jadi tidak penting, justru kita harus sekolah agar kelak tahu bahwa sekolah itu memang tidak penting dan tidak harus sekolah lagi. Proses pendidikan yang berhasil adalah ketika sang pelajar telah sampai kepada titik dimana sesuatu yg dulu dia anggap hebat, sudah tidak berlaku lagi dan sadar bahwa yang hebat hanya Allah SWT. Kalau kita cermati saat bayi baru lahir. Si bayi akan menggerak-gerakan mulutnya, bisa tahu tempat dan caranya menyusui. Kok bisa anak kucing yang masih merah bisa tahu puting susu induknya? Maka sebenarnya pendidikan itu jangan ge-er, guru itu tidak bisa mengajari orang, guru itu bisanya menemani. Agar murid punya bahan dalam rangka meneliti dirinya sendiri. Kalau kita tidak tahu diri kita ini siapa, bagaimana kita tahu kemampuan kita.

“Kalau nggak tahu kita ini kiper apa penyerang, maka saat di lapangan sepakbola, kita bakalan kebingungan, aku iki lapo nang kene? Kalau kucing jangan diajari menggongong. Kalau kambing jangan diajari terbang. Maka kenali dirimu, barang siapa mengenali dirinya sesungguhnya ia mengenali Tuhannya”. ( cak nun )

Dalam rangka menemukan jati diri dan kemandirian, maka pendidikan itu penting sehingga orang tua haruslah menyekolahkan anaknya. Pemerintah pun sudah diatur dalam pembukaan undang – undang mempunyai amanah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk para orangtua anggap saja ketika membayar biayai sekolah, selain merupakan buah kasih sayang kepada anak juga niatkan sebagai sodaqoh kepada pemerintah yang mempunyai kewajiban. Dengan itu, semoga susah payahnya para orangtua kita menyekolahkan anak, akan mendapat ganjaran berlipat dari Allah dan juga menjadi tuntutan nurani semua orang bahwa salah satu upaya untuk meneruskan perjuangan kemerdekaan adalah Menyelenggarakan Pendidikan.


Hai mahasiswa, jangan bangga dengan gelarmu, tapi apa yang telah kau perbuat !



Hariz A’Rifa’i, Mahasiswa UIN Raden Intan Lampung

Reaksi:

2 komentar:

  1. Bagaimana cara kita merubah mainset berfikir kita bahwasannya gelar memang tidak penting, yang penting adalah apa yg telah kita perbuat. NAMUN bagaimanapula kita melakukan sesuatu hal yang pastinya bertujuan dgn gelar. Aku akui salah satu niatkupun untuk membahagiakan orangtuaku dgn cara aku lulus kuliah dan mempunyai gelar yg penuh manfaat.

    BalasHapus